218
Pagi itu kala mengunggu Arez mandi, Anna berbenah kamar merapikan tempat tidur namun saat ia sedang membuka tirai jendela, ia mendengar Arez memanggil namanya sontak perempuan itu menoleh.
“Kenapa Ka-shit!” Anna langsung menutup matanya.
“Shampoo saya habis, boleh minta punya kamu ga?”
“Kenapa harus nanya, pake aja langsung.”
“Okay.”
Anna mendengar pintu kamar mandi sudah tertutup, ia pun menurunkan tangannya yang tadi menutup matanya.
“Sialan tuh orang pagi-pagi udah bikin gue jantungan, nongol di pintu mana telanjang.” Anna menggerutu akan hal yang baru saja terjadi.
“Shit my eyes, gue jadi mikir aneh-aneh.”
Kini Arez maupun Anna sudah bersiap untuk sarapan bersama, ketika Arez membuka pintu kamar ia mendapati Wira pun baru saja membuka pintu.
Kemudian Wira dengan sigap merangkul pundak Arez agar berjalan berdampingan diikuti Anna yang berjalan di belakangnya.
“Bentar.” Wira mengendus kepala Arez membuat sang empu terheran.
“Lo berdua abis mandi bareng kah?” Pertanyaan Wira membuat Anna membelalakan matanya.
“Ini lo pake sampo si Anna kan?” Arez hanya mengangguk santai.
“Wow.” Wira terseyum jahil melirik Anna.
“Mandi bareng.” Mendengar hal itu Arez menghentikan langkah, namun hal itu membuat Anna melancarkan aksinya.
“Anjing! Lo ngapain nendang gue Anna!” Ya, Anna menendang bokong Wira karena tak kuat mendengar ocehan aneh Wira pagi hari ini.
Perempuan itu mengabaikan Arez dan Wira, ia melenggang meninggalkan mereka berdua tepat setelah menendang Wira.
“Bini lo garang anjir.” Wira mengusap bokongnya yang kini terasa panas.
“You know well she is.” Ujar Arez seraya tersenyum tipis.